10 Feb 2019

Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue Dan Morfologi Aedes Aegypti

                            Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu mausia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan.
Aedes tersebut mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Viremia adalah keadaan dimana di dalam darah ditemukan virus. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 – 10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat di tularkan kembali pada manusia pada saat gigitan berikutnya.
Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif). Ditubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4 – 6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.

                                             

Morfologi Aedes aegypti

1. Telur 

Telur diletakkan satu persatu pada permukaan yang basah tepat di atas batas permukaan air. Setiap hari nyamuk Aedes aegypti betina dapat bertelur rata-rata 100 butir. Telurnya berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain. Sebagian besar nyamuk Aedes aegypti betina meletakkan telurnya di beberapa sarang selama satu kali siklus gonotropik. Perkembangan embrio biasanya selesai dalam 48 jam di lingkungan yang hangat dan lembab. Telur akan menetas pada saat penampung air penuh, tetapi tidak semua telur akan menetas pada waktu yang sama. Pada kondisi yang buruk (dalam kondisi kekeringan yang lama), telur dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun. Kapasitas telur untuk menjalani masa pengeringan akan membantu mempertahankan kelangsungan spesies ini.

2. Larva atau Jentik

Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar satu ke instar empat memerlukan waktu sekitar lima hari. Lamanya perkembangan larva akan bergantung pada suhu, ketersediaan makanan, dan kepadatan larva pada sarang. Pada kondisi optimum, waktu yang dibutuhkan mulai dari penetasan sampai kemunculan nyamuk dewasa akan berlangsung sedikitnya selama 7 hari, termasuk dua hari untuk masa menjadi pupa. Akan tetapi, pada suhu rendah, mungkin akan dibutuhkan beberapa minggu untuk kemunculan nyamuk dewasa. Hampir di seluruh Negara Asia Tenggara, sarang telur Aedes aegypti paling banyak ditemukan di wadah air rumah tangga buatan manusia.

3. Pupa 

Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian kepala - dada (cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tempak seperti tanda baca “koma”. Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernapasan seperti terompet. Pada ruas perut ke- 8 terdapat sepasang alat pengayuh yang berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan bulu di nomor 7 pada ruas perut ke- 8 tidak bercabang. Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah bila dibandingkan dengan larva. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan air. Pupa bertahan selama dua hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa.

4. Nyamuk dewasa

Orang awam mudah mengenali nyamuk tersebut dengan ciri-ciri umum sebagai berikut:
1) Menghisap darah pada siang hari (08.00-12.00)
2) Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
3) Senang hinggap pada pakaian menggantung
4) Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan sekitar rumah.

No comments:

Post a Comment