10 Feb 2019

Inilah Definisi Demam Berdarah Dengue (Dengue Haemorrhagic Fever) Yang Mengakibatkan Kematian

Definisi Demam Berdarah Dengue (Dengue Haemorrhagic Fever)
 
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty. Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus, yang ditandai dengan : Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan, termasuk uji Tourniquet positif, trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/μl), hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20%), disertai dengan atau tanpa perbesaran hati.



Penyakit DBD adalah penyakit menular yang sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian pada banyak orang penyakit ini di sebabkan oleh virus dengue dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini tersebar luas di rumah-rumah, sekolah dan tempat-tempat umum lainnya seperti tempat ibadah, restoran, kantor, balai desa dan lain-lain sehingga setiap keluarga dan masyarakat mengandung risiko untuk ketularan penyakit DBD. Obat untuk penyakit DBD belum ada, dan vaksin untuk pencegahannya juga belum ada, sehingga satu-satunya cara untuk memberantas penyakit ini adalah dengan memberantas nyamuk aedes aegypti.

                                   Penyebab Demam Berdarah Dengue

Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk.

Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8 - 10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya. Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk. Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. 

                                  Gejala-Gejala Klinik Demam Berdarah Dengue 

Demam dengue ditandai oleh gejala-gejala klinik berupa demam, tanda-tanda perdarahan, hematomegali dan syok. Gejala - gejala tersebut yaitu demam tinggi yang mendadak, terus – menerus berlangsung selama 2 sampai 7 hari, naik turun (demam bifosik). Kadang – kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 400C dan dapat terjadi kejan demam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam berdarah dengue. Pada saat fase demam sudah mulai menurun dan pasien seakan sembuh hati – hati karena fase tersebut sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.Gejala klinik dari masing - masing Demam Dengue (DD), Demam berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue (SSD) dapat dibedakan seperti dijelaskan dibawah ini. 

1. Demam Dengue (DD)

Gejala klinis dari Demam Dengue dapat berbeda tergantung usia dari pasien. Pada bayi dan anak usia muda mungkin menunjukkan demam yang tidak spesifik, sedangkan pada anak - anak yang lebih tua mungkin menunjukkan demam yang lebih ringan atau gejala klasik (WHO,1997). Gejala klasik dari demam dengue antara lain demam tinggi mendadak, kadang kadang pola bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri belakang bola mata, nyeri otot, tulang, sendi, mual, muntah dan timbul ruam (WHO, 2005). Ruam ini dapat berbentuk makulopapular yang biasa timbul pada awal timbulnya gejala (1 - 2 hari) kemudian menghilang tanpa bekas dan selanjutnya timbul ruam merah halus (hari ke 6 atau 7) terutama di daerah kaki, telapak kaki dan tangan. Selain itu dapat juga ditemukan petekia. Dari pemeriksaan darah dapat dijumpai leukopeni dan kadang trombositopeni. Masa penyembuhan dapat disertai rasa lesu berkepanjangan, terutama pada usia dewasa (Depkes RI, 2007). Pada keadaan wabah dilaporkan adanya demam dengue yang disertai dengan perdarahan seperti epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna, hematuri dan menoragi. Keadaan demam dengue dengan perdarahan ini harus dibedakan dengan demam berdarah dengue, karena pada demam dengue tidak dijumpai adanya kebocoran plasma yang dapat dibuktikan dengan adanya hemokonsentrasi, pleural efusi dan asites (Depkes RI, 2007).


2. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Gejala klasik dari demam berdarah dengue ditandai dengan 4 manifestasi klinis utama yaitu demam tinggi, perdarahan, terutama perdarahan kulit dan seringkali disertai pembesaran hati (hepatomegali) dan kegagalan peredaran darah. Demam tinggi mendadak selama 2 - 7 hari, dengan muka kemerahan. Demam tinggi ini dapat menimbulkan kejang terutama pada bayi. Keluhan lain seperti anoreksia, nyeri kepala, otot, tulang dan sendi, serta mual dan muntah sering ditemukan. Biasanya juga ditemukan nyeri perut di epigastrium dan dibawah tulang iga. Pada beberapa penderita kadang mengeluh nyeri telan dengan faring hiperemis saat dilakukan pemeriksaan, namun jarang didapatkan batuk – pilek (Depkes RI, 2007).

 Bentuk perdarahan yang paling sering ditemukan adalah pada uji tourniquet, kulit mudah memar dan perdarahan pada bekas suntikan intravena atau bekas pengambilan darah. Umumnya ditemukan petekie halus yang tersebar didaerah ekstremitas, aksila, wajah dan palatum mole pada fase awal demam. Epistaksis dan perdarahan pada gusi lebih jarang ditemukan serta perdarahan pada saluran cerna kadang ditemukan pada fase demam. Hati biasanya membesar dengan perabaan mulai dari hanya teraba sampai 2 - 4 cm di bawah arcus costae kanan. Pembesaran hati ini tidak berhubungan dengan berat dan ringannya penyakit tetapi pembesaran hati ini lebih sering didapatkan pada penderita dengan syok (Depkes, RI, 2007). 

Fenomena patofisiologi utama yang membedakan DBD dari DD adalah meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, hipotensi, trombositopenia, peningkatan hematokrit (hemokonsentrasi), hipoproteinemia (FK UI, 1997). Masa krisis terjadi pada akhir fase demam, dimana terjadi penurunan suhu tiba - tiba yang seringkali disertai dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi beratnya. Pada kasus dengan gangguan sirkulasi ringan terjadi perubahan minimal dan hanya sementara, sedangkan pada kasus berat penderita dapat mengalami syok (Depkes RI, 2007) 

Sumber : Situs web Pusat Perlindungan Kesehatan: www.chp.gov.hk

No comments:

Post a Comment